press details

Pintu Terlarang di Usmar Ismail Hall

January 19, 2009

Raut muka penuh kengerian masih tergambar jelas di wajah para penonton ketika bergegas keluar dari gedung bioskop. Masih terbayang adegan demi adegan penuh kekejaman silih berganti seperti tidak pernah habis. Kesan muram dan misterius tersirat dalam gambar-gambar yang disuguhkan. Pemakaian warna yang cenderung monokrom, gedung-gedung tua, ekspresi wajah masa bodoh dari orang-orang disekitar tokoh utama sangat mendukung adanya unsur “misteri” dalam film ini. Meskipun di bungkus dalam nuansa retro yang kental dan artistik, tetap saja tidak bisa membuat kita berpaling dan melupakan kemuraman dan kemisteriusan yang terlanjur terbangun bahkan pada saat adegan pertama dimulai.
“Pintu Terlarang” bercerita tentang kehidupan suami istri Gambir (Fachri Albar), seorang pematung dan Talyda (Marsha Timothy) istrinya. Digambarkan sosok Gambir yang sukses namun rapuh didalam dan kurang ambisius beristrikan Talyda yang cantik, semena-mena dan misterius. Alur cerita dengan segala kejutan, konflik dan dramanya mengalir dengan lancar, dan semakin mengundang keingintahuan di benak penonton untuk segera melihat akhir cerita. Setelah adegan sadis yang dilakukan Gambir (Fachri Albar) kepada kerabat, istrinya, bahkan ibunya sendiri, Gambir dihadapkan pada “sesuatu” dibalik sebuah pintu terlarang. Sebuah pintu yang oleh Talyda di wanti-wanti dengan keras untuk tidak dibuka.
Akhir cerita membuat penonton tersadarkan, bahwa kita dibawa dalam suasana batin serta alam pikiran Gambir yang merupakan hasil pengalaman dan presepsi seorang anak usia 8 tahun terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, dan terutama ibunya. Ngeri dan menakutkan, mungkin itu tetap bukan kata yang tepat untuk menggambarkan akibat yang terjadi jika seorang anak disiksa sedemikian rupa.
Sebagai manusia yang kerap bercermin, kita tidak bisa berhenti pada perasaan “Ngeri dan Menakutkan” belaka. Sebagai orang tua kita tertantang untuk introspeksi dan melihat dengan jeli pesan apa yang ingin disampaikan dalam film yang disutradarai Joko Anwar ini . Mungkin kita memang tidak sesadis orang tua Gambir, namun apakah kita benar-benar tidak pernah menyiksa anak kita walau dengan cara yang berbeda ? Pemaksaan kehendak, sarana mewujudkan ambisi pribadi, kurang memberikan waktu dan perhatian dan menjadikan anak sebagai aset ekonomi, hanyalah sebagian kecil dari tindakan “penyiksaan” yang kerap dilakukan orang tua. Dibungkus dengan alasan “demi kebaikan anak” banyak perlakuan orang tua kepada anak bahkan dipandang sebagai hal yang wajib dan umum dilakukan orang tua.
Melihat anak sebagai mitra kehidupan yang sejajar membuat kita bisa lebih menghargai dan mempercayai mereka. Sehingga sungguh tidak perlu ada lagi “Pintu Terlarang-Pintu Terlarang” dalam diri anak-anak yang notabene adalah kesayangan dan permata hati kita. Proficiat dan terimakasih untuk Sheila Timothy dan LifeLike Picturesnya yang dengan sukses mengangkat problema kehidupan kedalam bahasa film. Truly, Life is Like Pictures....