
Ismail Marzuki telah tiada 50 tahun lalu, dalam usia 44 tahun. Namun, nama sang komponis tetap hidup hingga kini. Putra Betawi ini meninggalkan sekitar 250 karya musik. Tema romantisisme perjuangan dan cinta mendominasi karyanya. Siapa tak kenal Rayuan Pulau Kelapa, Halohalo Bandung, dan Sepasang Mata Bola.
Jumat malam pekan lalu, karyakarya Ismail Marzuki diperdengarkan di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan. Ratusan tamu menyimak reinterpretasi yang dibawakan Tohpati Big Band. Di ujung mikrofon, beberapa biduan ternama bergantian menyanyikan lagu-lagu karyanya. Ada Baim, Rio Febrian, Andien, Rieka Roeslan, penyanyi senior Gatot Soenjoto, dan penyanyi cilik berusia 11 tahun, Farah Di.
Format big band, dengan belasan musisi di seksi tiup, lengkap dengan seksi ritme: dua pemain keyboard, basis, dan drummer, dipilih bukan tak sengaja. Menurut pengarah program Kumoratih Kushardjanto, era Ismail dulu, trennya adalah big band.
Swing jazz, yang populer pada era 1930-an hingga 1940-an, bahkan identik dengan big band. Di era perjuangan kemerdekaan itu, banyak komposer Indonesia yang dipengaruhi gaya swing jazz dalam format big band. “Maka, Ismail Marzuki pun membuat karya-karya yang cocok dibawakan big band,” kata Kumoratih.
Gitaris Tohpati memimpin para musisi: empat peniup trombon, empat peniup saksofon, empat peniup trompet, seorang pianis, seorang pemain keyboard, dua penyanyi latar, basis, perkusionis, dan drummer. Tak hanya sebagai penata musik, Tohpati tentu saja memegang gitar listriknya.
Para musisi kompak bersetelan hitam-hitam. Lima pemain teater meramaikan dengan aksi teatrikal dan dialog-dialog singkat. Kris Biantoro, sebagai penasihat artistik, berperan sebagai host sambil menceritakan berbagai kisah seputar Ismail Marzuki dan karya-karyanya.
“Karya Ismai Marzuki tak hanya lagu perjuangan, tapi juga percintaan,” kata Kris. Di tengah masa merebut kemerdekaan, kepasrahan terhadap perjuangan pun menyelip dalam lagu-lagu cinta karya Ismail. Misalnya, dalam karya Karangan Bunga dari Selatan. Kris mengutip sebaris lirik, ..hiaskan di batu nisanku karangan indah darimu..
Beberapa karya Ismail ada “warna” selatannya. Misalnya, Sapu Tangan dari Bandung Selatan dan Bandung Selatan di Waktu Malam. Kris pernah bertanya soal ini ke almarhum Soedono, teman dekat Ismail Marzuki. Rupanya, saat membuat lagu-lagu itu, Ismail tengah kasmaran kepada seorang gadis yang tinggal di Soreang, Bandung Selatan. Gadis itu adalah Eulis Zuraidah, yang kemudian menikah dengan sang komponis.
Setelah menikah, Ismail Marzuki tetap setia dengan istrinya. “Beliau tidak suka lirik-lirik (wanita lain),” kata Rahmi Ismail Marzuki, putri Ismail. Dia mengenang ayahnya sebagai orang yang disiplin dan penyayang keluarga. Selain mencipta lagu, kata Rahmi, Ismail gemar memasak. Pada akhir pekan, Ismail membuat sayur asem dan ayam goreng untuk disantap bersama keluarga.
Malam itu, total ada 12 lagu yang dipersembahkan. Komposisi lagu disesuaikan dengan vokalisnya— dari rock, jazz, hingga pop. Lagulagu yang dibawakan, antara lain Sersan Mayorku, Juwita Malam, Halo-halo Bandung, Kopral Jono, dan Rayuan Pulau Kelapa.
Seusai persembahan Payung Pantasi, Kris menambahkan sekelumit perihal sejarah lagu itu. Dulu, para gadis yang takut panas matahari biasa memakai payung terbuat dari kertas. “Payung itu buatan Tasik,” kata Kris. Dia juga menegaskan, judul lagu itu memang Payung Pantasi, bukan Payung Fantasi.
Indonesia Tanah Air Beta menjadi pamungkas persembahan malam itu, dibawakan semua vokalis. Penonton pun berdiri. Tepuk tangan panjang membahana mengenang sang komponis besar itu.
IBNU RUSYDI
Koran Tempo, 27 Januari 2008