
Dirigen asal Prancis Michael Cousteau (tengah) mengiringi Nusantara Symphony Orchestra saat menggelar pertunjukan di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Selasa (16/6). Pertunjukan musik klasik ini merupakan bagian dari program tahunan Centre Culturel Francais Jakarta, yang mengangkat tema "Printemps Francais 2009".
[JAKARTA] Gerakan tangannya gemulai mengayuh tongkat birama. Kadang berayun lemah, kadang berayun cepat. Orkestra pun memainkan musiknya, sesuai ayunan tongkat birama yang semalam, ada di genggaman dirigen Michael Cousteau. Dirigen asal Prancis ini, Selasa (16/6) menjadi konduktur tamu untuk Nusantara Symphony Orchestra (NSO).
Melihat aksi dirigen bersama tongkat birama, memang membuat iri. Sebab, serangkaian alat musik seperti biola, selo, kontrabas, suling, oboe, fagot, horn, klarinet dan timpani (semacam drum), patuh terhadap komando tongkat kecil itu. Tongkat birama penentu tempo permainan orkestra, tentunya tidak sembarang ayun, repertoar yang akan dibawakan pasukan orkestra itu sudah ditentukan sebelumnya. Hanya saja, tempo permainan memang ada di tangan Cousteau yang biasa memimpin orkestra dan belajar musik sejak usia 4 tahun.
Bersama dengan NSO, Cousteau menyuguhkan serangkaian repertoar musik klasik di Pusat Perfilman Usmar Ismail Jakarta.
"Orkestra ini merupakan acara tahunan. Dalam merayakan edisi ke-5 Festival Seni Budaya Prancis di Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Printemps Francais. Acara ini hasil kerja sama antara CCF (Centre Culturel Francais) dan NSO," ujar Direktur Eksekutif NSO Aida Swenson, di Jakarta, Selasa (16/6) berkait dengan kehadiran Cousteau.
Semalam, dirigen yang telah melanglang buana ke berbagai negara di beberapa benua berbeda, mengawali ayunan tongkat biramanya dengan simfoni D mayor karya Francois Joseph Gossec (1734-1829). Banyak aspek penyajian orkes gaya Mannheim yang mencakup tema yang kuat dan efek dinamis.
Selanjutnya, tampil Concerto (komposisi musik yang dimainkan dominan oleh biola, piano) oleh Adelaide Simanjuntak dan Iswargia Sudarno yang memainkan komposisi E flat mayor. Dentingan piano dua pianis itu menghasilkan nada yang saling mengisi, beriring, seolah terjadi dialog di dalamnya.
"Concerto ini memang masuk periode klasik Mozart pada zaman Barok yang unik. Terbukti dengan adanya dialog lewat piano yang saling bersahut-sahutan. Orkes kamar kolaborasi dengan Michael Cousteau, memang baru pertama kali dilakukan," kata Adelaide.
Kemudian, Cousteau memimpin orkestra membawakan simfoni The Farewell dalam kunci F sharp minor karya Franz Joseph Haydn (1732-1809). Komposisi yang dibawakan sangat menarik. Menghasilkan musik yang bergaya jenaka. Di sini, para pemain orkestra meninggalkan panggung satu demi satu hingga menyisakan dua pemain biola. Sejak awal, banyak harmoni yang mengejutkan dalam gerakan-gerakan dirigen. Gerakannya "menyentak-nyentak" dan kadang serius yang akhirnya menghasilkan harmoni serta melodi yang tak terduga.
Populer
Sebagai penutup, ditampilkan karya musik dari Camille Saint-Saens (1835-1921) yang jarang digelar. Tema The Carnaval of the Animals dalam repertoar ini merupakan salah satu musik orkestra yang populer untuk anak-anak dan remaja. Dalam komposisi itu, terdapat 14 gerakan yang menggambarkan berbagai jenis hewan.
Karya itu tetap di bawah kendali Cousteau dengan penampilan Ratna Riantiarno dan Jajang C Noer yang bernarasi dengan meniru bunyi-bunyi beberapa hewan, dilengkapi dengan gerakan-gerakan. Ratna dan Jajang berputar dan menari di atas panggung membuat komposisi ilustrasi dunia hewan.
Cousteau, semalam membuat para penikmat orkestra mengarungi beberapa era dari tongkat biramanya.