Seperti kita ketahui dampak dari bencana ekologis di Indonesia belum juga dapat diminimalisir hingga hari ini. Terakhir pada periode tahun 2006-2007 lalu, telah terjadi 840 kejadian bencana, dengan menelan korban 7.303 jiwa meninggal dan 1.140 orang dinyatakan hilang, lebih dari 3 juta orang menjadi pengungsi, diantara mereka sudah menjadi pengungsi lebih dari sekali; sedikitnya 750 ribu unit rumah mengalami kerusakan yang serius bahkan diantaranya tenggelam.
Rangkaian peristiwa kelam ini, tidak hanya meluluh-lantakan bumi pertiwi, namun sekaligus menempatkan rakyat Indonesia masuk ke dalam “ruang pesakitan”; yang jauh dari pelayanan kesehatan, pangan, pendidikan dan akses informasi yang memadai, hingga diabaikannya penghormatan atas hak-hak asasi yang melekat pada setiap warga negara Indonesia.
Untuk itulah, dalam momentum seratus tahun Kebangkitan Nasional (1908-2008), WALHI meyakini bahwa tidak cukup panjang waktu tersisa untuk selamatkan Indonesia. Saatnya Indonesia bangkit dengan kecerdasan dan kekuatan kolektif rakyat. Rakyat kritis (critical mass) untuk mendorong terjadinya perubahan-Indonesia, yang berdaulat dan bermartabat. WALHI akan mengadakan musyawarah bumi dan kebangkitan nasional yang bertemakan “100 tahun Kebangkitan Nasional, Momentum Penting Berbuat Bagi Bumi dan Kebangkitan Indonesia”.
n/a